la tahinu la tahzanu waantumul 'alauna inkuntum mu'minin

blog

Blog EntrysfasfafasfasfaAug 12, '08 6:08 AM
for everyone
asdsaff
Attachment: Document.rtf

Blog Entrykaledoskop tema : Get married?Feb 5, '08 12:36 AM
for everyone
kaledoskop tema : Get married?
(setelah di edit sana sini tanpa mengurangi makna)

 (Bogor, 2008)Mau yang gimana? Dalam obrolan sesama ikhwan hal menggelitik sering disinggung. menikah. Biasanya suasana jadi gerrr…. sapa sih yang ga mau menikah? Obrolan sore itu mengair aja, setelah pada pulang kampus pusing memikirkan skripsi, seminar…ngejar dosen..ah kumpul bareng dengan temen-temen kos. Akhirya ada yang mengawali,

$z: akh td ana kamren dengerin ceramah ustazah di radio, eh ada pertanyaan gimana kalo istri bekerja ternyata gajinya lebih gedhe dibanding suami. Kemaren juga ngobrol sama akhwat, tak Tanya mau bekerja dimn setelah lulus, njawabnya langsung tergantung suami nanti. Wah ..sebenernya kalo gini masalah..juga.

$y: temen ane kmern si-a nikah, dapet ikhwan, si ikhwan mau S3 ke jerman kliatanya, jadi ya ikut…bener itu.

$z:bukan gitu akh maksud ane.

$x: kita harus selektif akh kalo milih istri nanti.bukan krn apa-apa. Kan tiap orang punya karakter. Jadi karakter seperti apa yang match dengan karakter kita itu jadi pertimbangan.

$y: iya..bener tu…

$z: spakat akh, mau yang datar-datar aja, berkarakter kuat ato yang yang kaleem yang gampang ngaturnya.

$x: kalo antum akh ntar pinginnya istrinya gimana?

$z: tipe akhwat tu, ada tipe tipe BEM, tipe DKM. Rata-rata anak BEM tu lebih ekspressif, karakternya kuat, berpotensi mendominasi, wong kerjaanya debat. Nah tipe DKM tu yang kaleem, pinter kerjaan rumah biasanya. (hee..pada ktawa).

$y: iya..he em..biasanya

$z: saya sih kepingin yang perawat….gmn ya..kliatan rapi gitu…kalem, bersih.

$y: emang kalo perawat bisa rapi…

$x: emang bener kmu mau seperti itu.

$z: sy pernah kepikiran..gimana ya kalo dapet akhwat cina atu jepang..kliatanya asyik

$x: Tp sebenrnya yang penting kita bisa cocok ndak dgn karakternya, tapi yang jelas Islamnya tetep nomor satu.

$z: eh akh..sy sbnernya aga kurang sreg kalo da akhwat ditanya, kmana stelah lulus. Ujug2 dijwb ya ikut suami. Ini kaya seakan menyerahkan semua keputusan di suami. Kalo gitu alangkah beratnya beban para suami, jika harus menentukan smuanya.

$x: iya sih akh, tapi secara teori ini benar. Karena istri kan di tuntut taat.

$z: iya sih, cuman kalo langsung muaranya langusng ke-situ, ya..suaminya harus org yang karakternya kuat.

$y: trus gmana, menurut antum

$z: ya..paling ga dia tu bisa mengutarakan keinginannya, di ajak rembug, jadi ga semua tergantung suami. Istri tu manusia, suami juga manusia..kan bisa komunikasi…kalo msalah yang ambil keputusan suami..itu masalh lain, tapi kan prosesnya ada.

$x:nah tadi, ada yang karakternya kuat, ada yang cenderung ingin selalu ngikut. Jadi ya ntar dipikir-pikir..kalo mau memilih istri.

$z: kalo ana, ntar begitu menikah..istri tak suruh dirumah…hehe

$y:sssst…ini ga gibah kan??

$z: ya moga ga..asalkan ga nyebut nama si anu….

$x: ya itulah paling ga, mengerti tentang karakter,,,,


kaledoskop tema : Get married? Mei bi..
(setelah di edit sana sini tanpa mengurangi makna)

 Biasanya kan orang ditanya kapan nikah..
Tapi kebalikannya

ada yg biasanya malah rajin menanyakan ke ayah ma bundanya waktu masih kuliah

Nah ini kira-kira skenarionya :

Akh a: Bun, kapan aq boleh nikah?!

Bunda : Ono ono wae..isih cilik, ga’ ah mikir macem-macem..

             (ada-ada aja..masih kecil, ga usah mikir macem-macem..)

 Akh a : Yah, kapan aq boleh nikah?!
Ayah : Emang awakmu wis pantes nikah?
            (emang kamu dah pantas nikah?)

Akh a : bun, ntar kalo dah lulus aq boleh nikah ga?
Bunda  : ya..nek wis mapan, wis duwe duit okeh, omah
            (ya kalo dah mapan, udah punya uang banyak, dan rumah)

Akh a : yah, aq kan dah semester 8, dah gedhe. Kemaren ada temenku yang dah nikah.
Ayah : ya..yang itu kemaren kecelakaan..kali..
Akh a: Astagfirullah..

 

<bersambung..>





Abstrak 
Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, dari kebangkitan Eropa hingga reformasi di negara-negara Asia , Afrika, dan Amerika Latin tidak lepas dari tangan pemuda. Sebagai sebuah entitas komunitas (Community Entity) peran pemuda cukup dapat dibanggakan terutama di Indonesia. Tetapi perkembangan saat ini, pemuda cenderung kalah di dalam menentukan peran pribadinya (Personal Entity). Contoh seperti kriminalitas, narkotika dan hedonisme kelompok ini menempati urutan teratas.

Sehingga ada dua hal yang kontradiksi dimana pemuda sebagai entity penentu perubahan tetapi juga entity yang paling rentan sebagai korban perubahan (jaman). Hal ini terjadi saat pemuda memalui fase-fase perubahan dalam dirinya. Di saat di persimpangan, maka pilihan yang sulit harus ditentukan kapan, darimana dan bagaimana pemuda memulai perannya. Dengan mengambil metode studi literatur dan unsur pembatas yang digunakan adalah ummat Islam Indonesia, akan dijelaskan permasalahan ummat masa kini dan mendatang dan menjelaskan kapan, darimana dan bagaimana pemuda sebagai personal entity  akan menjawab semua permasalahan tersebut.

Memahami Problematika Umat

Ummat Islam digambarkan Alloh SWT didalam Al Qur’an adalah dengan :

“Kalian adalah umat terbaik jika kamu bertaqwa”.

Di dalam dalam ayat lain di jelaskan bagaimana gambaran ummat Islam secara lebih detail

“…Mereka mencintai saudara-sauranya mereka sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak…”

Selain menggambarkan bagaimana ummat Islam, Alloh SWT juga menggambarkan generasi yang mampu mengamban amanah sebagai pemimpin peradaban dunia.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. 8:2

Indonesia sebagai Negara berpenduduk Muslim dipandang sebagai representasi Islam, dengan alasan banyaknya orang Indonesia ber-KTP Islam. Lalu bagaimana jika cerita sehari-hari negeri ini di abad modern seperti ini.

vIndonesia terpuruk sebagai negeri yang terkorup ke enam di dunia dari 133 negara yang disurvey oleh International Transparency berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi ( dengan nilai indeks 1,9) jauh di bawah Malaysia (5,2).

vLebih dari sejuta pemuda terkena narkoba (Prof.Dadang H, 1998)

vIndeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yaitu komposisi peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala, di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 112 pada tahun 2002

vSkor IPA dan Matematika Indonesia (2 SMP) berada pada urutan 34 dan 32 di antara 38 negara ( Hasil studi The Third International Mathematics and Science Study 1999)

vData yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu urutan ke 37 dari 57 negara

vFrekuensi tawuran di DKI Jakarta tidak pernah menurun. Sebanyak 5 pelajar tewas dalam tiga minggu pertama tahun pelajaran 1999/2000.

Sungguh tidak tega jika harus dituliskan semua problem yang mendera negeri Muslim bernama Indonesia terutama masalah yang mendera generasi mudanya.

Disamping cerita-cerita itu ada juga cerita fakta yang menarik yang mengiringi perjalanan ummat Islam Indonesia.

vDalam sejarah Indonesia, ummat Islam selalu tampil sebagai pelaku utama, sejak jaman perjuangan kemerdekaan sampai pada munculnya Partai Masyumi dan Mohmmad Natsir sebagai PM pertama Indonesia, serta munculnya NU, Muhammadiyah sebagai penyokong pemerintah dalam membangun Indonesia.

vFakta bahwa proses perubahan-perubahan besar di negeri ini dipelopori oleh pemuda (mahasiswa).

Dari semua ini ada yang digaris bawahi bahwa sejarah masa lalu dan masa kini telah menggeser peran pemuda dimana pemuda tidak hanya sebagai agen perubahan (agent of change) tetapi juga menjadi korban sebuah perubahan (sacrifice of change). Dengan kondisi demikian, akan menjadi tanggung jawab lebih pemuda dalam menjawab tantangan.

 Kapan?

Melihat segala permasalahan di atas, Lalu kapan pemuda Islam diharapkan berkontribusi dalam membangun ummat? Pertanyaan ini akan sama artinya dengan pertanyaan, kapan sosok Bilal bin Rabbah yang tadinya seorang budak menjadi salah satu penting dalam dakwah Rosululloh SAW? Jawabannya adalah ketika aqidah Bilal telah murni ISLAM. Bisa juga pertanyaan ini  dianalogikan kapan seorang individu mulai menanggung dosanya sendiri setelah dilahirkan ibunya’? Jawabanya saat ia telah mengatahui perbedaan kebaikan dan keburukan. Lalu seperti pertanyaan ini, kapan seorang hamba harus bertaubat? Jawabanya saat ia tersadar bahwa perbuatanya adalah dosa. Hal ini sesuai dengan

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”(QS 3:133).

Ummat Islam secara umum, atau pemuda Islam khususnya saat ini secara tersistem telah dibutakan tentang Islam, sehingga tidak bisa  membedakan baik dan buruk. Bahkan bagaimana bentuk Islam (agama yang dianut) pun masih belum bisa mengerti yang bagaimana yang benar. Sehingga tidak aneh ada orang Islam, mengaku keyakinannya sangat benar tetapi menjadi pengikut budaya barat (western), mendirikan aliran sesat, atau saling mengkafirkan sesama. Dengan demikian ummat Islam saat ini seolah-olah menjadi jamaah para ‘balita’ yang belum mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 

Yang diharapkan segera dari sosok pemuda Islam adalah segera tersadar, sebagaimana sadarnya orang yang sholatnya batal (Jika batal langsung wudhu lagi dan sholat lagi). Sadar bahwa dirinya adalah bagian dari ummat, sadar bahwa dirinya adalah tulang punggung perubahan yang lebih baik. Kesadaran yang diikuti tindakan, mengambil sikap kearah perbaikan. Bukan sadarnya orang tidur, saat tersadar bukan segera bangkit, tetapi justru melanjutkan tidurnya.

Mengharapkan individu segera tersadar, tidak cukup. Ini adalah tanggung jawab individu yang telah tersadar (da’i). Sebagaimana Luqman yang mendidiki anaknya.

“dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya , ketika memberi pelajaran kepadanya “Wahai anakku !Janganlah engkau mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS 31:13)

Dalam pengertian ini, seumpama ada yang bertanya, mengapa Luqman tidak menyuruh anaknya baca kitab Alloh saja ? kan sudah cukup didalamnya ada pelajaran meng-esa-kan Alloh, sehingga tidak capek-capek berkata “anakku…Jangan A, B, C..”. Ada kisah lagi Rosululloh berdarah-darah saat menyeru untuk ber Islam masyarakat Makkah. Lalu seumpama ada yang bertanya, mengapa Rosululloh dulu kok ga menulis buku Alqur’an saja, sehingga bisa dibaca masyarakat Makkah pada waktu itu? Kan isi Al Qur’an sama ada pelajaran meng-esa-kan Alloh SWT. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan

“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Dan itulah orang-orang yang beruntung.(QS 3:104)

Sehingga ini kontras dengan kondisi sebagian besar orang tua yang menyuruh anaknya belajar Islam hanya dengan membelikanya buku Islam, membelikanya baju koko,  atau menyekolahkannya di sekolah. Sehingga ini bisa dijadikan dalil bahwa menyadarkan ummat Islam harus dengan berbagai cara. Di Al Qur’an banyak perintah Alloh SWT yang diawali “serulah..”, “menyuruh”,”mencegah”, “perangilah” dll.

Ini penting bahwa seseorang akan menjadi unsur perubah (agent of change) jika dia sadar dirinya sudah disadarkan bahwa dirinya menjadi korban perubahan (jaman). Proses titik balik itu kata kuncinya adalah proses tarbiyah dalam individu seorang pemuda. Kapan? Saat ia mau dan mampu mengemban amanah dakwah.

 Darimana?

Menurut ustads Hasan Al Bana tingkatan amal yang dilalui seorang muslim diharapkan dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan, memperbaiki pemerintahan, daulah Islamlamiyah, dan menegakkan khalifah Islam[3].

Kehidupan pemuda Indonesia saat ini masih dilingkungan keluarga (apalagi jika masih kuliah), beraktifitas di sekolah, kampus atau klub-klub, organisasi kampus. Mereka terjun kemasyarakat jika sudah lulus kuliah, atau bahkan lebih lama lagi jika melanjutkan S2, S3 dll. Kondisi ini berbeda dengan Rosululloh SAW dimana semasa belum ada isntitusi-institusi seperti sekolah dan kampus. Hidup Rosululloh SAW sudah terbiasa  dengan lingkungan masyarakatnya. Pasar ibarat sekolahnya, padang gembalaan ibarat organisasinya, pertemuan-pertemuan masyaratat Quraisy ibarat tutorialnya, dan kejadian-kejadian dimasyakarat adalah pengalaman untuk menunjukkan integritasnya.

Ini juga menjadi PR tambahan, bahwa masa sekarang pemuda dihadapkan pada fase-fase yang dibatasi ruang gerak. Dari balita kemasa sekolah, setelah itu ke kampus dan setelahnya baru sampai di masyarakat. Mulai dari fase ini secara ruang gerak sama dengan kondisi Rosululloh SAW.

Kondisi sekolah berbeda dengan kondisi kampus, tetapi mendekati. Kondisi kampus berbeda dengan kondisi masyarakat, dan perbedaanya sangat jauh. Mengapa?, karena kemiskinan dan kebodohan selalu berdampingan. Sehingga masyarakat kampus adalah gambaran masyarakat ideal yang diharapkan. Dimana ilmu ada, sehingga yang lainya pun akan ada. Hal ini mengakibatkan mahasiswa, dosen, atau intelektual lainya jika telah terjun kemasyarakat akan mendapatkan tantangan yang lebih.

Tidak heran jika ada kasus-kasus ADK yang futur ketika keluar kampus dll. Jarang dijumpai di jaman Rosululloh atau sahabat, terjadi demikian karena dia lahir dan mendapatkan pengalaman dari sekolah “masyarakat”.

Maka munculnya organisasi-organisasi seperti KAMMI, HMI, klub-klub lembaga amal dll diharapkan mampu menjembatani masa transisi dari dunia ideal ke dunia nyata. Keberadaan BEM, DPM, OSIS atau lembaga kurikuler lainya adalah lembaga berlatih mengahadapi ‘masyarakat’. Pelatihan ini seakan tidak ada artinya jika kondisi tempat latihanya jauh berbeda dengan kondisi tempat berlombanya. Seperti mobil Formula 1, saat latihan menggunakan ban Briqstone untuk trek kering, tetapi saat lomba ternyata hujan lebat sehingga trek basah, maka bias diprediksi gagal.

Jaman reformasi sudah lewat, sehingga saat ini saatnya pemuda mengemudikan jalanya reformasi. Jika tidak jauh-jauh hari para pemuda ini mendekatkan diri ke masyarakat, maka akan sulit jika diharapkan merubah masyarakat. Sehingga peran pemuda dalam hal ini mahasiswa harus lebih riil berkontribusi dalam perubahan masyarakat. Bukan lagi masyarakat dalam kampus tetapi masyarakat diluar kampus. Hal ini bias dimulai dari masyarakat lingkar kampus. Pemuda jika sudah berada dimasyarakat harus mampu membawa diri dan membawa lingkungannya untuk perbaikan.

 Bagaimana?

Di Indonesia jumlah pemuda (usia produktif) menempati urutan pertama dalam jumlah penduduk. Tetapi kenyataan yang ada adalah pengangguran melambung, kriminalitas meningkat, dan angka putus sekolah juga meningkat. Semua hal tersebut saling terkait. Pemuda Indonesia dihadapkan dengan tidak tersedianya ruang untuk menyalurkan tanggung jawab ‘individunya’ dan tanggung jawab ‘sosialnya’. Sehingga mereka bertanya-tanya “saya sekarang mau ngapain?”. Bahkan seorang lulusan sarjana IPB pun masih bertanya “setelah lulus mau ngapain?”. Seakan terlihat bingung, sehingga muncul inisiatif kumpul-kumpul, minum-minum, drugs, merampok, memalak, atau jadi supporter sepakbola dll.

Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan formal) tanpa dibarengi kemampuan seorang mutarobbi (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitive, bijak (hay,hasas,hakim) [2].

Bagaimana? Jawabanya adalah menjadi problem solver bagi seluruh permasalahan diatas. Masalah mendesak pertama di bab 3 (bab Kapan?) adalah ketersediaan da’i. Da’i yang menyeru, mengajarkan, membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Mereka mengajarkan ilmunya, mengajak mengamalkanya sehingga tercipta masyarakat yang berilmu. Maka pertanyaa bagaimana pertama bisa dijawab kita dapat menjadi ‘guru’.

Melihat kenyataan di Indonesia, dengan masyarakat yang serba kekurangan, wajar jika harta adalah hal yang di rindukan. Penjelasan diatas telah menggambarkan masalah kebodohan maka selanjutnya kemiskinan yang harus ditangani. Seorang yang fakir akan sangat mudah menjadi kafir jika tidak tertangani. Maka jawaban bagaimana kedua adalah menjadi ‘enterpreneur’.

Selanjutnya masalah kepimimpinan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri, yang mengeluarkan aturan hidup di masyarakat saat ini adalah pemerintah. Maka jika pemuda mau berkontribusi terhadap perubahan, dapat berperan sebagai ‘pemerintah’.

Dari semua tadi dapat dijadikan urutan prioritas. Pertama kita harus bias menjadi da’I atau guru, kedua kita harus mampu menjadi entrepreneur dan yang ketiga jika mampu, ambillah amanah sebagai pemimpin. Tetapi karena kita beramal jama’I, semua peran itu dapat di bagi bagi, yang mampu di bidang A, silahkan dan yang mampu dibidang B silahkan juga. Tetapi tetap tidak melupakan unsur da’i karena kita nanti punya anak, sehingga minimal kita bersikap seperti Luqman mengajari anaknya untuk taat kepada Alloh Swt


Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat di simpulkan beberapa point, diantaranya :

·   Ummat Islam dunia, khususnya Indonesia memiliki masalah, tetapi yang paling membahayakan adalah kurangnya pemahaman terhadap keIslamannya.

·   Seorang pemuda Islam akan menemukan titik balik sehingga mampu menjadi seorang mujahid pembela Islam saat ia paham akan keIslamannya.

·   Pemuda Islam harus disadarkan dari jebakan perubahan jaman, salahsatunya dengan tarbiyah (pendidikan).

·   Pemuda Islam harus mendapatkan tarbiyah dari masyarakatnya sedini mungkin, sehingga tidak kalah saat terjun di kehidupan masyarakatnya. Hal ini dapat dengan aktif dilembaga kemasyarakatan yang ada di masyarakat.

·   Pemuda Islam harus mampu mengisi kekosongan peran da’i, enterpreneur dan pemimpin untuk menjawab problematika ummat Indonesia saat ini.


Blog Entrygerakan mahasiswa , aneh..Jun 3, '07 10:46 AM
for everyone

Quo vadis gerakan mahasiswa? Kenapa sekarang kian banyak kelompok mahasiswa terlibat tawuran dan kekerasan? Dalam pekan-pekan lalu kita saksikan anarkisme dan kekerasan terjadi di kampus UGM Yogyakarta, UISU Medan, Universitas 45 Makasar, dan STAIN/IAIN Ambon. Daftar kekerasan di antara para mahasiswa pastilah bisa sangat panjang.

Apa pun alasannya, sangat memalukan kelompok-kelompok mahasiswa melakukan kekerasan di antara mereka sendiri atau pihak lain di kampus; merusak fasilitas pendidikan yang dibangun dengan susah payah. Saya mendapat kritik dari beberapa peserta pada seminar Nasional 'Gerakan Mahasiswa Era Reformasi' yang diselenggarakan PPSDM UIN Jakarta dan Balitbang Depag RI pada pekan kedua Mei 2007 lalu, ketika menyesalkan polah dan perilaku kelompok mahasiswa seperti itu.

Saya menyarankan, supaya para mahasiswa lebih berkeadaban dalam aksi dan unjuk rasa; tidak anarkis, seperti sering kita saksikan di TV. Tetapi, seorang peserta menyatakan, jika aksi, demo, dan unjuk rasa dilakukan dengan damai, tidak ada TV yang meliput; begitu mereka memblok jalan, membakar ban, dan seterusnya, barulah mereka mendapat liputan TV. Sayang juga, media, khususnya TV gagal mengembangkan 'jurnalisme perdamaian'.

Pertanyaan saya adalah: apakah aksi-aksi mahasiswa lebih untuk mendapatkan liputan TV yang senang mengekspose kekerasan, dan karena itu harus anarkis dan brutal? Ataukah sebaliknya, murni memperjuangkan idealisme guna mewujudkan Indonesia yang lebih baik? Para aktivis gerakan mahasiswa agaknya merenung kembali, apa tujuan mereka; menjadi aktivis untuk menarik liputan TV atau menjadi insan terpelajar yang berkeadaban.

Masa menjadi mahasiswa adalah masa pengembangan dan penguatan ilmu dan keahlian agar menjadi terpelajar (intelejensia). Meski merupakan transisi, jelas masa kemahasiswaan sangat menentukan perjalanan karier dan kehidupan mahasiswa; jika gagal kuliah, mereka bukan hanya gagal dalam mendapatkan gelar akademis, tetapi juga bisa gagal dalam masa depan dan kehidupan lebih baik. Kegagalan menjalankan tugas pokok belajar dalam menuntut ilmu dapat mengantarkan ke dalam kegelapan masa depan.

Bagi para aktivis gerakan mahasiswa, tugas dan kewajiban untuk sukses dalam kuliah menjadi lebih berat lagi, karena harus membagi waktu dan perhatian antara kuliah dan aktivisme gerakan kemahasiswaan. Tetapi, menjadi kewajiban moral para aktivis untuk sukses kuliah; adalah anathema bagi aktivis kalau kuliahnya amburadul dan menjadi mahasiswa abadi.

Sebagai figur kepemimpinan mahasiswa, aktivis seyogianya menjadi contoh yang baik (uswah hasanah) dan panutan moral bagi para mahasiswa lain, bahwa aktivisme kemahasiswaannya tidak mengganggu keberhasilan perkuliahannya; dan lebih jauh itu memiliki kesantunan dan keadaban atau akhlak mulia (akhlaq al-karimah).

Mahasiswa patut mengembangkan kepedulian sosialnya. Perguruan tinggi tempat mahasiswa menuntut ilmu memang seharusnya tidak menjadi ivory tower, menara gading, yang terpencil dari lingkungan sosialnya. Tetapi penting, dalam mengaktualisasikan kepedulian sosial (dan politik) atau aktivismenya, mahasiswa tetap berpegang pada prinsip akademis dan keilmuan perguruan tinggi. Mahasiswa harus berpijak pada sikap ilmiah, etik, moralitas, objektif, dan adil. Dalam mewujudkan aktivismenya, mahasiswa harus tidak berdasarkan prasangka dan emosi yang berujung pada tindakan tidak terkendali, untuk tidak mengatakan anarki. Inilah keadaban (civility), yang membuat mahasiswa punya hak disebut sebagai insan terpelajar.

Aktivisme mahasiswa --sebagai kekuatan moral-- mestilah tetap berpegang pada prinsip etis dan moral; jika keluar dari itu, gerakan mahasiswa kehilangan hak moralnya untuk mencoba memperbaiki berbagai keadaan yang tidak baik dalam masyarakat. Gerakan mahasiswa yang melanggar prinsip dan norma etik, moral, dan keadaban, hanya mendatangkan apatisme dari publik, bukan simpati dan empati.

Melihat perkembangan sekarang, gerakan mahasiswa tampaknya perlu melakukan restrospeksi dan introspeksi tentang pola, model, bentuk aktivisme. Perlu reorientasi gerakan dan aktivisme mahasiswa. Reorientasi itu tidak hanya mencakup pola, model, dan bentuk aktivisme yang lebih acceptable bagi publik, tetapi juga tentang pandangan dunia dan ideologi gerakan mahasiswa. Dengan begitu, aktivisme dan gerakan mahasiswa dapat kembali memiliki keabsahan filosofis, moral, dan etis.

Dalam aktivisme dan gerakan mahasiswa kini dan ke depan, peran-peran konvensional gerakan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan kontrol sosial dapat terus dijalankan. Tetapi, aktivisme dan gerakan mahasiswa semestinyalah juga diorientasikan ke arah pengembangan berbagai aspek sangat esensial bagi masa depan negara-bangsa Indonesia; di antaranya adalah penguatan demokrasi dan good governance; pengembangan civic culture, dan civility; pemberdayaan lembaga-lembaga sosial yang dapat memperkuat integrasi bangsa.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help