Abstrak
Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, dari kebangkitan Eropa hingga reformasi di negara-negara Asia , Afrika, dan Amerika Latin tidak lepas dari tangan pemuda. Sebagai sebuah entitas komunitas (Community Entity) peran pemuda cukup dapat dibanggakan terutama di Indonesia. Tetapi perkembangan saat ini, pemuda cenderung kalah di dalam menentukan peran pribadinya (Personal Entity). Contoh seperti kriminalitas, narkotika dan hedonisme kelompok ini menempati urutan teratas.
Sehingga ada dua hal yang kontradiksi dimana pemuda sebagai entity penentu perubahan tetapi juga entity yang paling rentan sebagai korban perubahan (jaman). Hal ini terjadi saat pemuda memalui fase-fase perubahan dalam dirinya. Di saat di persimpangan, maka pilihan yang sulit harus ditentukan kapan, darimana dan bagaimana pemuda memulai perannya. Dengan mengambil metode studi literatur dan unsur pembatas yang digunakan adalah ummat Islam Indonesia, akan dijelaskan permasalahan ummat masa kini dan mendatang dan menjelaskan kapan, darimana dan bagaimana pemuda sebagai personal entity akan menjawab semua permasalahan tersebut.
Memahami Problematika Umat Ummat Islam digambarkan Alloh SWT didalam Al Qur’an adalah dengan :
“Kalian adalah umat terbaik jika kamu bertaqwa”.
Di dalam dalam ayat lain di jelaskan bagaimana gambaran ummat Islam secara lebih detail
“…Mereka mencintai saudara-sauranya mereka sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak…”
Selain menggambarkan bagaimana ummat Islam, Alloh SWT juga menggambarkan generasi yang mampu mengamban amanah sebagai pemimpin peradaban dunia.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. 8:2
Indonesia sebagai Negara berpenduduk Muslim dipandang sebagai representasi Islam, dengan alasan banyaknya orang Indonesia ber-KTP Islam. Lalu bagaimana jika cerita sehari-hari negeri ini di abad modern seperti ini.
vIndonesia terpuruk sebagai negeri yang terkorup ke enam di dunia dari 133 negara yang disurvey oleh International Transparency berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi ( dengan nilai indeks 1,9) jauh di bawah Malaysia (5,2).
vLebih dari sejuta pemuda terkena narkoba (Prof.Dadang H, 1998)
vIndeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yaitu komposisi peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala, di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 112 pada tahun 2002
vSkor IPA dan Matematika Indonesia (2 SMP) berada pada urutan 34 dan 32 di antara 38 negara ( Hasil studi The Third International Mathematics and Science Study 1999)
vData yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu urutan ke 37 dari 57 negara
vFrekuensi tawuran di DKI Jakarta tidak pernah menurun. Sebanyak 5 pelajar tewas dalam tiga minggu pertama tahun pelajaran 1999/2000.
Sungguh tidak tega jika harus dituliskan semua problem yang mendera negeri Muslim bernama Indonesia terutama masalah yang mendera generasi mudanya.
Disamping cerita-cerita itu ada juga cerita fakta yang menarik yang mengiringi perjalanan ummat Islam Indonesia.
vDalam sejarah Indonesia, ummat Islam selalu tampil sebagai pelaku utama, sejak jaman perjuangan kemerdekaan sampai pada munculnya Partai Masyumi dan Mohmmad Natsir sebagai PM pertama Indonesia, serta munculnya NU, Muhammadiyah sebagai penyokong pemerintah dalam membangun Indonesia.
vFakta bahwa proses perubahan-perubahan besar di negeri ini dipelopori oleh pemuda (mahasiswa).
Dari semua ini ada yang digaris bawahi bahwa sejarah masa lalu dan masa kini telah menggeser peran pemuda dimana pemuda tidak hanya sebagai agen perubahan (agent of change) tetapi juga menjadi korban sebuah perubahan (sacrifice of change). Dengan kondisi demikian, akan menjadi tanggung jawab lebih pemuda dalam menjawab tantangan.
Kapan?
Melihat segala permasalahan di atas, Lalu kapan pemuda Islam diharapkan berkontribusi dalam membangun ummat? Pertanyaan ini akan sama artinya dengan pertanyaan, kapan sosok Bilal bin Rabbah yang tadinya seorang budak menjadi salah satu penting dalam dakwah Rosululloh SAW? Jawabannya adalah ketika aqidah Bilal telah murni ISLAM. Bisa juga pertanyaan ini dianalogikan kapan seorang individu mulai menanggung dosanya sendiri setelah dilahirkan ibunya’? Jawabanya saat ia telah mengatahui perbedaan kebaikan dan keburukan. Lalu seperti pertanyaan ini, kapan seorang hamba harus bertaubat? Jawabanya saat ia tersadar bahwa perbuatanya adalah dosa. Hal ini sesuai dengan
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”(QS 3:133).
Ummat Islam secara umum, atau pemuda Islam khususnya saat ini secara tersistem telah dibutakan tentang Islam, sehingga tidak bisa membedakan baik dan buruk. Bahkan bagaimana bentuk Islam (agama yang dianut) pun masih belum bisa mengerti yang bagaimana yang benar. Sehingga tidak aneh ada orang Islam, mengaku keyakinannya sangat benar tetapi menjadi pengikut budaya barat (western), mendirikan aliran sesat, atau saling mengkafirkan sesama. Dengan demikian ummat Islam saat ini seolah-olah menjadi jamaah para ‘balita’ yang belum mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Yang diharapkan segera dari sosok pemuda Islam adalah segera tersadar, sebagaimana sadarnya orang yang sholatnya batal (Jika batal langsung wudhu lagi dan sholat lagi). Sadar bahwa dirinya adalah bagian dari ummat, sadar bahwa dirinya adalah tulang punggung perubahan yang lebih baik. Kesadaran yang diikuti tindakan, mengambil sikap kearah perbaikan. Bukan sadarnya orang tidur, saat tersadar bukan segera bangkit, tetapi justru melanjutkan tidurnya.
Mengharapkan individu segera tersadar, tidak cukup. Ini adalah tanggung jawab individu yang telah tersadar (da’i). Sebagaimana Luqman yang mendidiki anaknya.
“dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya , ketika memberi pelajaran kepadanya “Wahai anakku !Janganlah engkau mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS 31:13)
Dalam pengertian ini, seumpama ada yang bertanya, mengapa Luqman tidak menyuruh anaknya baca kitab Alloh saja ? kan sudah cukup didalamnya ada pelajaran meng-esa-kan Alloh, sehingga tidak capek-capek berkata “anakku…Jangan A, B, C..”. Ada kisah lagi Rosululloh berdarah-darah saat menyeru untuk ber Islam masyarakat Makkah. Lalu seumpama ada yang bertanya, mengapa Rosululloh dulu kok ga menulis buku Alqur’an saja, sehingga bisa dibaca masyarakat Makkah pada waktu itu? Kan isi Al Qur’an sama ada pelajaran meng-esa-kan Alloh SWT. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan
“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Dan itulah orang-orang yang beruntung.(QS 3:104)
Sehingga ini kontras dengan kondisi sebagian besar orang tua yang menyuruh anaknya belajar Islam hanya dengan membelikanya buku Islam, membelikanya baju koko, atau menyekolahkannya di sekolah. Sehingga ini bisa dijadikan dalil bahwa menyadarkan ummat Islam harus dengan berbagai cara. Di Al Qur’an banyak perintah Alloh SWT yang diawali “serulah..”, “menyuruh”,”mencegah”, “perangilah” dll.
Ini penting bahwa seseorang akan menjadi unsur perubah (agent of change) jika dia sadar dirinya sudah disadarkan bahwa dirinya menjadi korban perubahan (jaman). Proses titik balik itu kata kuncinya adalah proses tarbiyah dalam individu seorang pemuda. Kapan? Saat ia mau dan mampu mengemban amanah dakwah.
Darimana?
Menurut ustads Hasan Al Bana tingkatan amal yang dilalui seorang muslim diharapkan dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan, memperbaiki pemerintahan, daulah Islamlamiyah, dan menegakkan khalifah Islam[3].
Kehidupan pemuda Indonesia saat ini masih dilingkungan keluarga (apalagi jika masih kuliah), beraktifitas di sekolah, kampus atau klub-klub, organisasi kampus. Mereka terjun kemasyarakat jika sudah lulus kuliah, atau bahkan lebih lama lagi jika melanjutkan S2, S3 dll. Kondisi ini berbeda dengan Rosululloh SAW dimana semasa belum ada isntitusi-institusi seperti sekolah dan kampus. Hidup Rosululloh SAW sudah terbiasa dengan lingkungan masyarakatnya. Pasar ibarat sekolahnya, padang gembalaan ibarat organisasinya, pertemuan-pertemuan masyaratat Quraisy ibarat tutorialnya, dan kejadian-kejadian dimasyakarat adalah pengalaman untuk menunjukkan integritasnya.
Ini juga menjadi PR tambahan, bahwa masa sekarang pemuda dihadapkan pada fase-fase yang dibatasi ruang gerak. Dari balita kemasa sekolah, setelah itu ke kampus dan setelahnya baru sampai di masyarakat. Mulai dari fase ini secara ruang gerak sama dengan kondisi Rosululloh SAW.
Kondisi sekolah berbeda dengan kondisi kampus, tetapi mendekati. Kondisi kampus berbeda dengan kondisi masyarakat, dan perbedaanya sangat jauh. Mengapa?, karena kemiskinan dan kebodohan selalu berdampingan. Sehingga masyarakat kampus adalah gambaran masyarakat ideal yang diharapkan. Dimana ilmu ada, sehingga yang lainya pun akan ada. Hal ini mengakibatkan mahasiswa, dosen, atau intelektual lainya jika telah terjun kemasyarakat akan mendapatkan tantangan yang lebih.
Tidak heran jika ada kasus-kasus ADK yang futur ketika keluar kampus dll. Jarang dijumpai di jaman Rosululloh atau sahabat, terjadi demikian karena dia lahir dan mendapatkan pengalaman dari sekolah “masyarakat”.
Maka munculnya organisasi-organisasi seperti KAMMI, HMI, klub-klub lembaga amal dll diharapkan mampu menjembatani masa transisi dari dunia ideal ke dunia nyata. Keberadaan BEM, DPM, OSIS atau lembaga kurikuler lainya adalah lembaga berlatih mengahadapi ‘masyarakat’. Pelatihan ini seakan tidak ada artinya jika kondisi tempat latihanya jauh berbeda dengan kondisi tempat berlombanya. Seperti mobil Formula 1, saat latihan menggunakan ban Briqstone untuk trek kering, tetapi saat lomba ternyata hujan lebat sehingga trek basah, maka bias diprediksi gagal.
Jaman reformasi sudah lewat, sehingga saat ini saatnya pemuda mengemudikan jalanya reformasi. Jika tidak jauh-jauh hari para pemuda ini mendekatkan diri ke masyarakat, maka akan sulit jika diharapkan merubah masyarakat. Sehingga peran pemuda dalam hal ini mahasiswa harus lebih riil berkontribusi dalam perubahan masyarakat. Bukan lagi masyarakat dalam kampus tetapi masyarakat diluar kampus. Hal ini bias dimulai dari masyarakat lingkar kampus. Pemuda jika sudah berada dimasyarakat harus mampu membawa diri dan membawa lingkungannya untuk perbaikan.
Bagaimana?
Di Indonesia jumlah pemuda (usia produktif) menempati urutan pertama dalam jumlah penduduk. Tetapi kenyataan yang ada adalah pengangguran melambung, kriminalitas meningkat, dan angka putus sekolah juga meningkat. Semua hal tersebut saling terkait. Pemuda Indonesia dihadapkan dengan tidak tersedianya ruang untuk menyalurkan tanggung jawab ‘individunya’ dan tanggung jawab ‘sosialnya’. Sehingga mereka bertanya-tanya “saya sekarang mau ngapain?”. Bahkan seorang lulusan sarjana IPB pun masih bertanya “setelah lulus mau ngapain?”. Seakan terlihat bingung, sehingga muncul inisiatif kumpul-kumpul, minum-minum, drugs, merampok, memalak, atau jadi supporter sepakbola dll.
Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan formal) tanpa dibarengi kemampuan seorang mutarobbi (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitive, bijak (hay,hasas,hakim) [2].
Bagaimana? Jawabanya adalah menjadi problem solver bagi seluruh permasalahan diatas. Masalah mendesak pertama di bab 3 (bab Kapan?) adalah ketersediaan da’i. Da’i yang menyeru, mengajarkan, membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Mereka mengajarkan ilmunya, mengajak mengamalkanya sehingga tercipta masyarakat yang berilmu. Maka pertanyaa bagaimana pertama bisa dijawab kita dapat menjadi ‘guru’.
Melihat kenyataan di Indonesia, dengan masyarakat yang serba kekurangan, wajar jika harta adalah hal yang di rindukan. Penjelasan diatas telah menggambarkan masalah kebodohan maka selanjutnya kemiskinan yang harus ditangani. Seorang yang fakir akan sangat mudah menjadi kafir jika tidak tertangani. Maka jawaban bagaimana kedua adalah menjadi ‘enterpreneur’.
Selanjutnya masalah kepimimpinan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri, yang mengeluarkan aturan hidup di masyarakat saat ini adalah pemerintah. Maka jika pemuda mau berkontribusi terhadap perubahan, dapat berperan sebagai ‘pemerintah’.
Dari semua tadi dapat dijadikan urutan prioritas. Pertama kita harus bias menjadi da’I atau guru, kedua kita harus mampu menjadi entrepreneur dan yang ketiga jika mampu, ambillah amanah sebagai pemimpin. Tetapi karena kita beramal jama’I, semua peran itu dapat di bagi bagi, yang mampu di bidang A, silahkan dan yang mampu dibidang B silahkan juga. Tetapi tetap tidak melupakan unsur da’i karena kita nanti punya anak, sehingga minimal kita bersikap seperti Luqman mengajari anaknya untuk taat kepada Alloh Swt
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat di simpulkan beberapa point, diantaranya :
· Ummat Islam dunia, khususnya Indonesia memiliki masalah, tetapi yang paling membahayakan adalah kurangnya pemahaman terhadap keIslamannya.
· Seorang pemuda Islam akan menemukan titik balik sehingga mampu menjadi seorang mujahid pembela Islam saat ia paham akan keIslamannya.
· Pemuda Islam harus disadarkan dari jebakan perubahan jaman, salahsatunya dengan tarbiyah (pendidikan).
· Pemuda Islam harus mendapatkan tarbiyah dari masyarakatnya sedini mungkin, sehingga tidak kalah saat terjun di kehidupan masyarakatnya. Hal ini dapat dengan aktif dilembaga kemasyarakatan yang ada di masyarakat.
· Pemuda Islam harus mampu mengisi kekosongan peran da’i, enterpreneur dan pemimpin untuk menjawab problematika ummat Indonesia saat ini.